Bayangkan peta dunia bukan sebagai kumpulan negara yang statis, melainkan sebagai lautan yang sedang dilanda badai hebat. Gelombang konflik muncul di satu titik, sementara di titik lain, kabut ketidakpastian menyelimuti arah kebijakan negara-negara besar. Inilah gambaran yang dilukiskan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada peringatan Nuzulul Qur'an. Namun, lebih dari sekadar pernyataan, ucapannya adalah sebuah diagnosis terhadap kondisi geopolitik global yang sedang demam tinggi. Sebagai negara kepulauan dengan posisi strategis, bagaimana seharusnya Indonesia membaca gelombang ini dan mengatur kemudinya?
Pidato tersebut, yang disampaikan di Istana Negara, bukanlah sekadar retorika seremonial. Ia muncul di tengah momen dimana indeks ketidakpastian kebijakan global (Global Economic Policy Uncertainty Index) tercatat berada di level yang secara historis tinggi, mengungguli periode-periode krisis sebelumnya. Ini memberikan konteks yang lebih empiris pada pernyataan "penuh bahaya dan ketidakpastian" yang disampaikan Prabowo.
Membaca Peta Konflik: Lebih dari Sekadar Perang Terbuka
Ketika Prabowo menyebut banyak pemimpin dunia dengan kekuatan besar tidak lancar menjaga perdamaian, ia mungkin merujuk pada sebuah fenomena yang lebih kompleks daripada sekadar perang konvensional. Dunia saat ini menghadapi perang proksi, perang ekonomi melalui sanksi dan tarif, serta perang informasi yang masif. Konflik di Ukraina dan Timur Tengah hanyalah puncak gunung es. Di bawah permukaan, terjadi pertarungan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik, ketegangan di Laut China Selatan, dan persaingan teknologi yang semakin sengit antara blok-blok kekuatan.
Analisis dari beberapa think tank geopolitik menunjukkan bahwa era pasca-Perang Dingin yang ditandai dengan dominasi satu kutub dan relatif stabil, telah benar-benar berakhir. Kita kini memasuki fase multipolar yang kacau (chaotic multipolarity), dimana beberapa kekuatan besar saling tarik-menarik, namun tidak ada satupun yang memiliki otoritas atau kemauan untuk menjadi penjaga ketertiban global yang sejati. Inilah sumber utama "ketidakpastian" yang dimaksud.
Respon Indonesia: Persatuan Domestik sebagai Fondasi Diplomasi
Seruan Prabowo untuk menggalang persatuan dan kerukunan di dalam negeri harus dilihat sebagai strategi pertahanan pertama. Dalam teori hubungan internasional, sebuah negara yang rapuh secara internal akan menjadi sasaran empuk tekanan dan pengaruh kekuatan asing. Dengan lebih dari 270 juta penduduk yang majemuk, kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya merawat kerukunan tersebut. Ini bukan hanya soal toleransi, tetapi tentang membangun ketahanan nasional (national resilience) yang kohesif.
Pernyataannya untuk melindungi seluruh rakyat tanpa memandang suku, ras, dan agama adalah komitmen konstitusional yang mendapatkan konteks geopolitik baru. Di era dimana isu identitas dan minoritas sering dieksploitasi oleh aktor-aktor luar untuk menciptakan instabilitas, komitmen ini menjadi tameng strategis. Negara yang terbelah oleh konflik internal tidak akan mampu merumuskan kebijakan luar negeri yang mandiri dan efektif.
Antara Realisme dan Optimisme: Sebuah Paradoks yang Diperlukan
Terdapat paradoks yang menarik dalam pidato Prabowo. Di satu sisi, ia melukiskan realitas dunia yang suram dan berbahaya dengan nada yang realis. Di sisi lain, ia menutup dengan optimisme bahwa "yang benar akan menang" dan Indonesia akan mencapai cita-citanya. Paradoks ini mungkin justru mencerminkan jalan tengah yang ingin ditempuh Indonesia: mengakui kerasnya realitas internasional tanpa kehilangan harapan dan agency sebagai bangsa.
Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi "mendayung di antara dua karang" (free and active foreign policy) yang telah lama dianut, namun dengan penyesuaian konteks. Bukan lagi sekadar tidak memihak pada dua blok, tetapi aktif membangun kemitraan dengan banyak pihak, memperkuat solidaritas ASEAN, dan sekaligus menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di tengah pusaran persaingan besar.
Opini: Perlukah Indonesia Memperkuat Postur Strategisnya?
Di sini, penulis ingin menyisipkan sebuah opini analitis. Pernyataan Prabowo tentang dunia yang berbahaya mengisyaratkan suatu kebutuhan yang sering kurang didiskusikan secara terbuka: perlunya peninjauan ulang postur pertahanan dan strategis Indonesia. Ketidakpastian global sering kali berujung pada peningkatan kompetisi militer dan penguatan aliansi. Sementara komitmen pada perdamaian adalah hal yang mutlak, perdamaian itu sendiri seringkali hanya dapat dijamin oleh kemampuan untuk mempertahankannya (peace through strength).
Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan tren peningkatan pengeluaran militer di kawasan Asia-Pasifik, didorong oleh ketegangan geopolitik. Pertanyaan kritisnya adalah: apakah diplomasi dan kerukunan internal saja cukup sebagai bekal menghadapi dunia yang penuh bahaya? Ataukah diperlukan investasi strategis yang lebih signifikan pada kapasitas pertahanan, keamanan siber, dan intelijen, sebagai bentuk deteren dan perlindungan kedaulatan? Ini adalah debat penting yang harus dihadapi, jauh melampaui retorika.
Penutup: Navigasi di Lautan Berbadai
Pidato Presiden Prabowo pada momen Nuzulul Qur'an telah membuka sebuah percakapan nasional yang lebih dalam tentang posisi Indonesia di dunia. Ini bukan sekadar tentang menyebutkan bahaya, tetapi tentang memetakan medan tempur yang baru, dimana konflik memiliki banyak wajah dan ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian. Seruan untuk persatuan adalah fondasi yang benar, namun fondasi itu harus dibangun dengan kesadaran kolektif bahwa tantangan di depan sangatlah nyata.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah dunia ini berbahaya—Prabowo telah menjawabnya. Pertanyaannya adalah: seberapa tangguh dan cerdik kita sebagai bangsa dalam membangun kapal yang mampu berlayar, bahkan mengarungi, lautan ketidakpastian tersebut? Jawabannya terletak pada kemampuan kita menterjemahkan kesadaran akan bahaya menjadi kebijakan yang konkret, visioner, dan berani. Momen refleksi keagamaan itu mengingatkan kita bahwa di tengah gelombang besar, prinsip-prinsip dasar persatuan, keadilan, dan ketahananlah yang akan menjadi sauh penyelamat. Mari kita jadikan peringatan ini bukan sebagai akhir dari pembicaraan, melainkan sebagai awal dari perencanaan strategis yang lebih matang untuk masa depan Indonesia di panggung dunia.

Diskusi (2)
Artikel yang sangat informatif. Terima kasih sudah berbagi!
Saya sangat setuju dengan poin kedua. Semoga kedepannya lebih banyak ulasan seperti ini.