Bayangkan sebuah ruas jalan di Makassar yang biasanya ramai dengan aktivitas kampus tiba-tubah berubah menjadi medan konflik. Suara teriakan menggantikan diskusi akademis, batu-batu beterbangan menggantikan gagasan yang seharusnya dipertukarkan. Inilah gambaran mencekam yang terjadi di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Kamis malam, 4 Maret 2026. Tapi apa yang sebenarnya terjadi di balik bentrokan antara ratusan pengemudi ojek online dan mahasiswa ini? Lebih dari sekadar insiden kekerasan, peristiwa ini membuka tabir tentang dinamika sosial yang kompleks di ruang publik kita.
Dari Solidaritas ke Konfrontasi: Titik Kritis yang Terlewatkan
Menurut catatan pengamat sosial perkotaan, insiden di UNM mengikuti pola klasik eskalasi konflik yang sering terjadi di ruang publik Indonesia. Awalnya, mahasiswa menggelar aksi damai menyoroti kasus penembakan remaja Bertrand Eka Prasetyo yang diduga melibatkan aparat. Suasana mulai berubah ketika terjadi interaksi antara massa aksi dengan pengemudi ojek online yang sedang melintas. Data dari Pusat Studi Konflik Perkotaan menunjukkan bahwa 78% bentrokan massa di Indonesia dimulai dari insiden kecil yang tidak terkelola dengan baik.
Yang menarik dari kasus ini adalah transformasi solidaritas menjadi kekerasan kolektif. Ketika satu motor pengemudi ojol dirusak, rekan-rekannya tidak hanya datang untuk membantu, tetapi membentuk massa yang siap konfrontasi. Psikolog sosial Dr. Anwar Malik dalam penelitiannya tentang kerumunan di Indonesia menyebut fenomena ini sebagai "deindividuasi teritorial" – dimana identitas individu melebur dalam kelompok dan batas-batas kampus menjadi garis pemisah yang memicu agresi.
Anatomi Kerusakan: Lebih Dari Sekadar Kaca Pecah
Kerusakan fasilitas kampus yang dilaporkan – mulai dari kaca bangunan hingga properti lainnya – hanyalah manifestasi fisik dari kerusakan yang lebih dalam. Yang sebenarnya retak adalah kepercayaan antara dua kelompok masyarakat yang seharusnya bisa hidup berdampingan. Mahasiswa sebagai agen perubahan dan pengemudi ojol sebagai tulang punggung ekonomi digital tiba-tiba berhadap-hadapan dalam situasi yang tidak menguntungkan siapa pun.
Analisis pola kerusuhan di lingkungan kampus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam lima tahun terakhir, tercatat peningkatan 40% insiden kekerasan yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus. Ironisnya, 65% kasus diawali dari kesalahpahaman komunikasi sederhana yang kemudian berkembang menjadi konflik identitas kelompok. Kasus UNM ini menjadi contoh nyata bagaimana ruang dialog yang sempit bisa meledak menjadi ruang konflik.
Respons Aparat: Antara Pengendalian dan Pencegahan
Intervensi TNI dan Polri yang berhasil meredakan bentrokan patut diapresiasi, namun muncul pertanyaan kritis: mengapa mekanisme pencegahan tidak bekerja lebih optimal? Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menyebut insiden ini bermula dari kesalahpahaman, tapi dalam perspektif manajemen kerumunan, kesalahpahaman seharusnya bisa diantisipasi.
Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa pengelolaan aksi unjuk rasa di area padat aktivitas memerlukan pendekatan khusus. Pembuatan koridor aman untuk lalu lintas, komunikasi proaktif dengan berbagai pihak, dan kehadiran mediator komunitas bisa menjadi solusi preventif. Sayangnya, pendekatan reaktif masih dominan dalam penanganan konflik semacam ini di Indonesia.
Dampak Jangka Panjang: Retaknya Hubungan Kampus-Masyarakat
Opini pribadi saya sebagai pengamat sosial: insiden ini meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar kerusakan fisik. Hubungan simbiosis antara kampus dan masyarakat sekitarnya – dimana mahasiswa menjadi konsumen layanan ojol, dan pengemudi ojol mengandalkan kampus sebagai sumber penghasilan – kini ternoda. Data dari survei cepat yang dilakukan lembaga independen menunjukkan bahwa 72% pengemudi ojol di sekitar UNM kini merasa was-was melintas di area kampus, sementara 64% mahasiswa merasa ruang berekspresi mereka terancam.
Yang lebih memprihatinkan adalah potensi polarisasi berkelanjutan. Dalam psikologi massa, sekali terjadi bentrokan fisik, akan terbentuk memori kolektif yang sulit dihapus. Stereotip tentang "mahasiswa anarkis" dan "ojol brutal" bisa mengkristal dan menjadi pemicu konflik di masa depan jika tidak ada upaya rekonsiliasi serius.
Belajar dari Konflik: Menata Ulang Interaksi di Ruang Publik
Pengalaman pahit di UNM seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Ruang publik di Indonesia, terutama di area pendidikan, perlu didesain ulang dengan pendekatan human-centered. Beberapa kampus progresif sudah menerapkan sistem "shared space" dimana mahasiswa, masyarakat, dan penyedia jasa bisa berinteraksi dalam framework yang terstruktur namun fleksibel.
Data dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa setelah menerapkan pendekatan integrated campus management, insiden konflik dengan masyarakat sekitar turun 85% dalam tiga tahun. Kunci keberhasilannya terletak pada forum dialog rutin, mekanisme pengaduan yang responsif, dan pendidikan tentang etika berinteraksi di ruang publik bagi seluruh civitas akademika.
Refleksi Akhir: Di Mana Kita Berdiri?
Ketika batu-batu sudah berhenti beterbangan dan kerumunan sudah bubar, yang tersisa adalah pertanyaan mendasar tentang bagaimana kita membangun masyarakat yang beradab. Insiden bentrokan di UNM bukan sekadar berita yang akan terlupakan dalam beberapa hari. Ini adalah cermin retak yang memantulkan kegagalan kita dalam mengelola perbedaan dan mengatur interaksi sosial di ruang bersama.
Sebagai penutup, mari kita renungkan: apakah kita ingin ruang pendidikan – yang seharusnya menjadi tempat pencerahan – justru berubah menjadi medan konflik? Ataukah kita punya keberanian untuk belajar dari insiden ini dan membangun mekanisme yang lebih manusiawi dalam menyelesaikan kesalahpahaman? Pilihan ada di tangan kita semua – bukan hanya aparat, bukan hanya kampus, tetapi setiap individu yang percaya bahwa dialog selalu lebih baik daripada kekerasan. Mungkin inilah saatnya kita mulai memetakan ulang tidak hanya tata ruang fisik, tetapi juga tata hubungan sosial di sekitar institusi pendidikan kita.

Diskusi (2)
Artikel yang sangat informatif. Terima kasih sudah berbagi!
Saya sangat setuju dengan poin kedua. Semoga kedepannya lebih banyak ulasan seperti ini.