Nasional

Di Balik Upacara Militer: Analisis Mendalam Prosesi Pemakaman Marinir Korban Longsor Cisarua

Analisis mendalam prosesi pemakaman dua prajurit Marinir korban longsor Cisarua, dari makna upacara militer hingga refleksi tentang risiko tugas negara.

olehadit
Jumat, 6 Maret 2026
Di Balik Upacara Militer: Analisis Mendalam Prosesi Pemakaman Marinir Korban Longsor Cisarua

Bandara Raden Inten II di Lampung pada Senin siang itu sunyi, namun penuh dengan beban yang tak terucap. Di tengah kesibukan penerbangan sipil, sebuah pesawat CN212-200 MPA milik TNI AU mendarat membawa muatan yang paling berat: dua peti jenazah prajurit muda. Ini bukan sekadar kedatangan biasa, melainkan awal dari sebuah ritual penghormatan tertinggi dalam tradisi militer—sebuah upacara yang sarat dengan makna, simbol, dan duka yang mendalam bagi keluarga besar TNI, khususnya Korps Marinir.

Makna Simbolik dalam Setiap Gerak dan Sikap

Upacara penyambutan jenazah yang digelar pukul 13.15 WIB itu, meski berlangsung singkat, mengandung lapisan makna yang kompleks. Setiap aba-aba, setiap hormat, dan setiap langkah prajurit pengawal bukan sekadar protokoler. Dalam analisis tradisi militer Indonesia, upacara semacam ini berfungsi sebagai mekanisme transisi—baik bagi almarhum yang diantarkan ke peristirahatan terakhir, maupun bagi rekan seperjuangan yang harus menerima kepergiannya. Prosesi ini menjadi penegasan bahwa kematian dalam tugas, meski tragis, diakui dan dihormati oleh institusi dan negara.

Dua nama yang dibawa pulang adalah Serda Mar Sidik Harianto dan Praka Mar Muhammad Kori. Mereka bukan sekadar angka dalam statistik korban longsor di Cisarua, Bandung Barat. Mereka adalah bagian dari 23 personel yang sedang mempersiapkan diri untuk misi pengamanan perbatasan Indonesia-Papua Nugini—sebuah tugas yang membutuhkan ketangguhan ekstrem. Ironisnya, mereka justru gugur bukan di medan tugas yang sesungguhnya, melainkan dalam fase persiapan, diterpa longsor yang dipicu hujan dua hari berturut-turut.

Data dan Konteks Operasi Militer yang Berisiko

Mengutip pernyataan Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali, kejadian ini mengungkap fakta yang sering luput dari publik: latihan militer tingkat tinggi memiliki tingkat risiko yang signifikan. Dari 23 personel yang tertimbun, hingga laporan terakhir, empat dinyatakan meninggal dunia. Tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI AL, dan unsur lainnya telah bekerja sejak 24 Januari 2026. Menarik untuk dicatat metode yang digunakan: kombinasi alat berat dan teknologi drone menunjukkan pendekatan modern dalam operasi pencarian dan evakuasi di medan yang sulit.

Data dari Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan kompleksitas operasi ini. Hingga 26 Januari 2026, telah dievakuasi 29 kantong jenazah (body bag) dari lokasi. Angka yang lebih besar dari jumlah korban yang disebutkan awal mengindikasikan kondisi jenazah yang tidak utuh, sehingga memerlukan proses identifikasi mendalam oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat. Detail ini menggarisbawahi kekerasan alam dan dampak destruktif dari bencana longsor terhadap korban.

Perjalanan Terakhir dan Jejak yang Ditinggalkan

Setelah upacara di bandara selesai sekitar pukul 13.40 WIB, kedua jenazah memulai perjalanan terakhirnya ke kampung halaman. Serda Mar Sidik Harianto akan disemayamkan di Kotabumi, Lampung Utara, sebelum dimakamkan secara militer di TPU Penitis. Sementara Praka Mar Muhammad Kori dibawa ke Desa Kibang, Lampung Timur. Pemakaman militer yang menanti mereka bukan sekadar formalitas. Ritual ini mengandung pesan bahwa negara hadir hingga akhir, mengakui pengorbanan mereka dengan penghormatan penuh.

General Manager KC Bandara Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan merupakan agenda TNI Angkatan Udara yang dilaksanakan di Terminal VIP. Koordinasi antar matra (TNI AU yang mengangkut, TNI AL sebagai korps asal) dalam prosesi ini mencerminkan integrasi dan solidaritas internal TNI dalam menghadapi musibah.

Refleksi: Antara Kewajiban, Risiko, dan Penghormatan

Melihat kronologi ini, muncul pertanyaan analitis mendasar: sejauh mana mitigasi risiko diterapkan dalam latihan militer di medan dengan kondisi geologis rentan seperti Cisarua? Cisarua dikenal dengan topografi berbukit dan curah hujan tinggi. Apakah asesmen lingkungan yang memadai telah dilakukan sebelum penempatan personel dalam jumlah signifikan? Insiden ini seharusnya menjadi bahan evaluasi kritis tidak hanya bagi Korps Marinir, tetapi bagi seluruh latihan tempur TNI di masa depan.

Di sisi lain, respons institusional patut diapresiasi. Kecepatan evakuasi, kerjasama antar lembaga, dan penghormatan yang diberikan menunjukkan sistem penanganan korban yang terstruktur. Namun, di balik semua protokoler yang rapi, yang paling terdampak adalah keluarga di Lampung Utara dan Lampung Timur yang kehilangan tulang punggung dan harapan. Duka mereka tidak bisa sepenuhnya terwakili oleh upacara militer yang khidmat.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: setiap upacara militer untuk jenazah prajurit sebenarnya adalah cermin dari kontrak sosial antara negara dan warga yang mengabdi. Negara menjamin penghormatan dan penghidupan bagi keluarga yang ditinggalkan, sementara prajurit bersedia menempatkan nyawa di garis depan. Tragedi Cisarua mengingatkan kita bahwa risiko itu nyata, bahkan sebelum mencapai medan tugas yang sesungguhnya. Prosesi di Bandara Raden Inten II bukan akhir cerita, melainkan awal dari rangkaian tanggung jawab negara yang harus berlanjut—mulai dari pemakaman yang layak hingga perhatian berkelanjutan bagi keluarga korban. Dalam keheningan upacara itu, terdengar gaung pertanyaan: sudahkah kita sebagai bangsa memberikan yang terbaik bagi mereka yang bersedia memberikan segalanya?

Diskusi (2)

Andi Saputra2 jam yang lalu

Artikel yang sangat informatif. Terima kasih sudah berbagi!

Siti Aminah5 jam yang lalu

Saya sangat setuju dengan poin kedua. Semoga kedepannya lebih banyak ulasan seperti ini.

Di Balik Upacara Militer: Analisis Mendalam Prosesi Pemakaman Marinir Korban Longsor Cisarua