Ketika Guru HAM Berdiam Diri: Refleksi Prabowo atas Standar Ganda Global

Presiden Prabowo mengkritik standar ganda negara-negara besar dalam isu HAM dan demokrasi. Bagaimana Indonesia harus menyikapinya? Simak analisis lengkapnya.

Ditulis oleh
Ketika Guru HAM Berdiam Diri: Refleksi Prabowo atas Standar Ganda Global

Bayangkan seorang guru yang dengan tegas mengajarkan aturan kepada murid-muridnya, tetapi kemudian melanggar aturan yang sama di depan mata mereka. Kredibilitasnya akan langsung runtuh, bukan? Nah, dalam skala yang jauh lebih besar dan kompleks, inilah ironi yang disoroti Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya baru-baru ini. Dunia internasional, khususnya negara-negara yang sering dianggap sebagai 'kampiun' demokrasi dan HAM, justru sedang diuji konsistensinya di tengah berbagai tragedi kemanusiaan yang memilukan.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Prabowo tidak sekadar menyampaikan arahan administratif. Ia membawa para pemimpin daerah untuk melihat cermin retak politik global. Ada nada kecewa yang terasa, namun juga tekad yang kuat, bahwa Indonesia tidak boleh terperangkap dalam hipokrisi ini, tetapi harus menemukan jalannya sendiri.

Menguak Tabir Standar Ganda di Panggung Dunia

Prabowo dengan gamblang menyebutkan paradoks yang mencolok. Negara-negara yang selama puluhan tahun aktif 'mengkhotbahkan' nilai-nilai demokrasi, supremasi hukum, dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), ternyata kerap menjadi pelaku utama pelanggaran terhadap prinsip-prinsip yang mereka agungkan sendiri. "Mereka lah yang melanggar apa yang mereka ajarkan," tegasnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik biasa, melainkan potret nyata dari ketidakadilan yang dirasakan banyak negara berkembang.

Presiden ketujuh Indonesia itu kemudian mengarahkan perhatian pada satu tragedi kemanusiaan yang menurutnya mendapat respons yang tidak proporsional dari komunitas global. "Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai dan banyak negara yang diam. Di mana hak asasi manusia? Di mana demokrasi yang mereka ajarkan?" tanyanya retoris. Pertanyaan ini menggema, menyentuh naluri keadilan dasar siapa pun, sekaligus mengungkap kekecewaan mendalam terhadap selektivitas dalam penegakan nilai-nilai universal.

Membaca Peta Geopolitik: Bukan Hanya Urusan Luar Negeri

Pesan penting dari arahan Prabowo adalah bahwa konflik dan hipokrisi di belahan dunia lain bukanlah drama yang jauh dan terpisah. Ia menegaskan dengan jelas bahwa gejolak seperti perang di Ukraina dan konflik yang berkepanjangan di Gaza memiliki dampak riil dan langsung terhadap stabilitas dan ekonomi Indonesia. Harga pangan, energi, dan bahkan stabilitas politik dalam negeri bisa terpengaruh oleh gelombang yang berasal dari ribuan kilometer jauhnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan dan pemahaman mendalam para pemimpin daerah. "Jadi Indonesia, kita, harus sadar kalau kita tidak hidup sendiri... Marilah kita waspada. Marilah kita mengerti tantangan-tantangan yang ada di dunia ini," pesannya. Ini adalah seruan untuk membangun ketahanan nasional yang berbasis pada kesadaran global, di mana setiap kepala daerah memahami bahwa kebijakan lokalnya harus mempertimbangkan dinamika internasional.

Mencari Jati Diri di Tengah Badai Global

Di sinilah Prabowo mengajak untuk kembali ke akar. Menghadapi kompleksitas dan standar ganda dunia, solusinya bukan dengan mengekor atau membenci, melainkan dengan memperkuat identitas dan pemahaman sejarah sendiri. Ia mendorong para pemimpin untuk menjadi arsitek yang mengerti fondasi bangsa mereka sendiri. "Kita harus jadi pemimpin yang mengerti sejarah kita, yang mengerti latar belakang bangsa kita, yang mengerti sejarah nusantara... dari Sabang sampai Merauke," ujarnya.

Pendekatan ini menarik untuk dicermati. Alih-alih terjebak dalam debat menyalahkan, Prabowo justru mengajak untuk membangun kedaulatan naratif. Indonesia, yang sering disebut sebagai the impossible nation karena keberagamannya, justru memiliki modal sosial dan budaya yang kaya untuk merumuskan pandangannya sendiri tentang demokrasi, HAM, dan tata kelola global yang lebih adil. Ini bukan tentang isolasi, melainkan tentang interaksi yang setara dan bermartabat.

Opini: Dari Kritik Menuju Kontribusi Konkret

Kritik Prabowo terhadap standar ganda global adalah valid dan mencerminkan suara banyak negara di Global South. Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa perdagangan senjata utama seringkali justru mengalir dari negara-negara 'penjaga perdamaian' ke wilayah konflik, sebuah kontradiksi yang nyata. Namun, di balik kritik tersebut, terbuka peluang besar bagi Indonesia.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, ekonomi terbesar di ASEAN, dan tradisi demokrasi yang relatif muda namun dinamis, Indonesia memiliki posisi unik. Negara ini bisa menjadi jembatan dan contoh. Alih-alih hanya menyoroti hipokrisi orang lain, tantangan sesungguhnya adalah membangun track record yang konsisten dalam penegakan HAM dan demokrasi di dalam negeri, sekaligus aktif mendorong diplomasi yang konstruktif di forum internasional seperti PBB dan G20. Inilah yang akan memberikan kredibilitas dan kekuatan moral yang sesungguhnya.

Penutup: Sebuah Refleksi untuk Kita Semua

Pidato Prabowo di Sentul itu, pada hakikatnya, adalah cermin yang dihadapkan bukan hanya kepada para pemimpin daerah, tetapi kepada seluruh bangsa. Ia mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap narasi global yang seringkali diterima begitu saja. Di era informasi yang serba cepat, di mana opini publik mudah dibentuk, kemampuan untuk membaca 'yang tersirat' di balik 'yang tersurat' dalam politik internasional menjadi sangat penting.

Pada akhirnya, pesannya mengarah pada satu hal: kedaulatan. Kedaulatan bukan sekadar bebas dari intervensi militer asing, tetapi juga kedaulatan berpikir, kedaulatan nilai, dan kedaulatan untuk menentukan masa depan sendiri berdasarkan jati diri dan kepentingan nasional. Ketika 'guru-guru' HAM di dunia berdiam diri di saat pembantaian terjadi, mungkin inilah saatnya bagi murid-muridnya, seperti Indonesia, untuk tidak hanya mempertanyakan, tetapi mulai menawarkan pelajaran alternatif tentang bagaimana membangun tatanan dunia yang lebih manusiawi dan konsisten. Bagaimana menurut Anda, sudah siapkah kita untuk peran itu?

Terkait

Artikel Terkait

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
GOV

Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.

https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etik
2
STAT

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.

https://www.bps.go.id
3
REPORT

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.

https://www.komdigi.go.id
4
JOURNAL

Pusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.

https://lipi.go.id

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Jabodetabek Terkini.

JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

LTLensaJabodetabek

LensaJabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Berita dan liputan mendalam dengan sudut pandang berbeda dan akurat.

Kunjungi Situs
KJKabarJabodetabek

KabarJabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Sumber berita terpercaya dengan informasi aktual dan kredibel.

Kunjungi Situs
KBKabarify

Kabarify

KABAR NASIONAL

Kabar nasional dan peristiwa terkini secara ringkas.

Kunjungi Situs
JHJakartaHarian

JakartaHarian

PORTAL BERITA HARIAN

Portal berita harian dengan informasi terkini seputar Jakarta dan sekitarnya.

Kunjungi Situs
KKenalJakarta

KenalJakarta

MENGENAL JAKARTA

Mengenal Jakarta lebih dekat melalui sejarah, budaya, dan perkembangan kota.

Kunjungi Situs
Ketika Guru HAM Berdiam Diri: Refleksi Prabowo atas Standar Ganda Global | Jabodetabek Terkini