Bayangkan sebuah kapal besar yang sedang bocor. Daripada memperbaiki kebocoran struktural di lambung kapal, kita justru sibuk menimba air dengan gayung kecil. Kira-kira begitulah analogi yang muncul ketika membicarakan kebijakan penghematan energi nasional yang terlalu mengandalkan work from home (WFH) sebagai solusi utama. Dalam wawancara eksklusif, Anggota Komisi XII DPR Ratna Juwita Sari menyoroti sebuah paradoks kebijakan yang berpotensi mengabaikan akar persoalan.
"Ketika kita membicarakan krisis energi, kita sedang membicarakan sistem yang kompleks, bukan sekadar pola kerja pegawai," ujar Ratna dengan nada yang tegas namun reflektif. "Mengurangi mobilitas ASN memang bisa memangkas konsumsi, tapi itu seperti mengobati gejala, bukan penyakitnya."
Dibalik Angka: Konsumsi Energi yang Tidak Merata
Data dari Kementerian ESDM tahun 2025 menunjukkan pola konsumsi energi nasional yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sektor industri menyumbang 47% dari total konsumsi energi final, diikuti oleh transportasi sebesar 28%, rumah tangga 18%, dan komersial 7%. Sementara itu, konsumsi energi di gedung-gedung pemerintah pusat dan daerah hanya berkontribusi sekitar 3-4% dari total.
"Inilah yang sering luput dari perhitungan," analisis Ratna. "Ketika kita fokus pada WFH untuk ASN, kita sebenarnya hanya menyentuh sebagian kecil dari puzzle besar. Bahkan jika semua ASN WFH secara permanen, penghematannya mungkin tidak mencapai 2% dari total konsumsi nasional."
Efisiensi yang Terabaikan di Sektor Strategis
Ratna mengajak kita melihat lebih dalam pada sektor-sektor yang menjadi "rakus energi" namun jarang mendapat perhatian serius. Industri manufaktur, misalnya, masih banyak yang menggunakan teknologi efisiensi energi versi lama. Audit energi yang dilakukan di 50 pabrik besar menunjukkan potensi penghematan 15-30% hanya dengan upgrading peralatan dan sistem manajemen energi.
"Bayangkan jika pemerintah membuat program insentif untuk efisiensi energi industri," katanya. "Dampaknya bisa sepuluh kali lipat dari sekadar mengubah pola kerja ASN. Tapi ini membutuhkan political will dan pendekatan yang lebih strategis."
Transportasi Publik: Titik Lemah yang Berulang
Salah satu poin kritis yang diangkat Ratna adalah konsumsi BBM di sektor transportasi. "Kita sudah puluhan tahun membicarakan transportasi massal, tapi implementasinya masih setengah hati," ujarnya. Data menunjukkan bahwa efisiensi BBM di transportasi massal bisa mencapai 60-70% lebih baik dibanding kendaraan pribadi.
"Daripada hanya menyuruh orang WFH, mengapa tidak sekaligus memperbaiki sistem transportasi kita? Ini akan memberikan dampak ganda: mengurangi konsumsi energi sekaligus meningkatkan mobilitas masyarakat."
Konsekuensi Sosio-Ekonomi yang Sering Terlupakan
Ratna juga mengingatkan adanya efek domino dari kebijakan WFH yang tidak terencana dengan baik. "Ada asumsi bahwa WFH selalu menghemat energi. Tapi di tingkat rumah tangga, konsumsi listrik justru bisa meningkat 20-40%," jelasnya berdasarkan studi dari beberapa negara yang menerapkan WFH masif.
Belum lagi dampak pada produktivitas layanan publik, kesenjangan digital, dan beban mental pekerja yang harus menanggung biaya operasional kantor di rumah. "Kebijakan energi tidak boleh dibuat dalam vakum. Ia harus mempertimbangkan seluruh ekosistem sosial dan ekonomi."
Menuju Solusi Sistemik: Lebih dari Sekadar WFH
Legislator dari Fraksi PKB ini menawarkan kerangka berpikir yang lebih komprehensif. Pertama, audit energi nasional yang menyeluruh dan transparan. "Kita perlu peta konsumsi yang detail, bukan sekadar estimasi," tegasnya.
Kedua, insentif dan disinsentif yang tepat sasaran. "Berikan tax incentive untuk industri yang berinvestasi dalam teknologi hemat energi. Di sisi lain, terapkan standar efisiensi yang ketat untuk gedung-gedung baru."
Ketiga, percepatan transisi energi terbarukan dengan model bisnis yang inovatif. "Energi surya atap untuk industri dan komersial masih banyak kendala regulasi. Ini perlu diselesaikan."
Refleksi Akhir: Energi sebagai Cermin Tata Kelola Negara
Pada akhirnya, diskusi tentang kebijakan energi menurut Ratna adalah cermin dari kualitas tata kelola negara. "Kebijakan yang reaktif dan simbolik hanya akan menghasilkan solusi semu," refleksinya. "Yang kita butuhkan adalah pendekatan berbasis data, terukur dampaknya, dan berkeadilan sosial."
Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Apakah kita cukup berani untuk meninggalkan solusi instan dan menghadapi kompleksitas masalah energi secara utuh? Atau kita akan terus puas dengan perubahan-perubahan permukaan yang terlihat progresif namun minim dampak substantif? Jawabannya tidak hanya menentukan efisiensi energi hari ini, tetapi juga keberlanjutan bangsa di masa depan.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti sekadar menimba air dari kapal yang bocor, dan mulai memperbaiki struktur kapal itu sendiri. Karena hemat energi yang sesungguhnya bukan tentang mengurangi aktivitas, melainkan tentang melakukan aktivitas dengan cara yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Diskusi (2)
Artikel yang sangat informatif. Terima kasih sudah berbagi!
Saya sangat setuju dengan poin kedua. Semoga kedepannya lebih banyak ulasan seperti ini.