Mengapa WFH Hanya Seperti Tempelan? Analisis Mendalam Soal Kebijakan Hemat Energi yang Berkelanjutan

WFH bukan solusi ajaib hemat energi. Simak analisis kritis mengapa kita butuh pendekatan sistemik dan strategi jangka panjang untuk transformasi energi nasional.

Ditulis oleh
Mengapa WFH Hanya Seperti Tempelan? Analisis Mendalam Soal Kebijakan Hemat Energi yang Berkelanjutan

Bayangkan Anda punya kebocoran besar di atap rumah. Alih-alih memperbaiki genting yang rusak, Anda hanya menggeser perabotan agar tidak kehujanan. Itu kurang lebih analogi yang tepat untuk menggambarkan kebijakan hemat energi yang mengandalkan Work From Home (WFH) sebagai solusi utama. Baru-baru ini, wacana pemerintah untuk menghemat energi dengan menggenjot WFH bagi ASN menuai sorotan, termasuk dari anggota DPR Ratna Juwita Sari yang mengingatkan agar kebijakan ini tidak dijadikan 'obat tunggal'.

Pertanyaannya, mengapa kita perlu khawatir jika solusi instan ini dianggap sebagai jawaban final? Karena hemat energi bukan sekadar soal mematikan lampu atau mengurangi mobilitas—ini tentang membangun fondasi tata kelola energi yang kokoh untuk masa depan. Dalam analisis ini, kita akan membedah mengapa pendekatan parsial seperti WFH bisa jadi bumerang, dan strategi apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk transformasi energi yang berkelanjutan.

Mengapa Fokus pada WFH Bisa Menyesatkan?

Ratna Juwita, anggota Komisi XII DPR, dengan tegas menyatakan bahwa WFH bukanlah solusi tunggal. Pernyataannya ini bukan tanpa dasar. Data dari Kementerian ESDM menunjukkan bahwa konsumsi listrik sektor rumah tangga 'hanya' menyumbang sekitar 36-38% dari total konsumsi nasional. Sementara itu, sektor industri dan komersial (termasuk gedung pemerintahan) menyumbang porsi yang jauh lebih besar, mencapai sekitar 45-48%. Artinya, memindahkan aktivitas kerja ke rumah mungkin hanya memindahkan beban konsumsi, bukan menguranginya secara signifikan.

Lebih dalam lagi, ada efek domino yang sering luput dari perhitungan. Saat WFH diterapkan, beban listrik rumah tangga otomatis meningkat—komputer menyala seharian, AC atau kipas angin bekerja lebih lama, perangkat elektronik lain tetap aktif. Di sisi lain, gedung perkantoran pemerintah mungkin tetap beroperasi dengan pendingin ruangan dan penerangan yang menyala untuk area-area tertentu. Alih-alih menghemat, bisa jadi kita hanya melakukan shifting consumption tanpa efisiensi nyata.

Lalu, Di Mana Titik Fokus yang Seharusnya?

Jika WFH bukan jawaban utama, lalu apa? Ratna menawarkan perspektif yang lebih sistemik. Pertama, audit energi menyeluruh di sektor publik dan industri. Banyak gedung pemerintahan yang dibangun puluhan tahun lalu dengan sistem kelistrikan dan pendingin yang tidak efisien. Bayangkan jika ribuan gedung negara bisa dioptimalkan—penghematannya bisa berlipat ganda dibandingkan sekadar memindahkan pegawai ke rumah.

Kedua, mendorong efisiensi di sektor industri. Sektor ini adalah 'raksasa' konsumsi energi. Program insentif untuk perusahaan yang mengadopsi teknologi hemat energi, atau penerapan standar efisiensi yang ketat, bisa memberikan dampak yang jauh lebih masif. Ketiga, transportasi publik. Konsumsi BBM di sektor transportasi masih sangat tinggi. Memperbaiki dan memperbanyak angkutan massal yang andal bukan hanya menghemat energi, tapi juga mengurangi kemacetan dan polusi.

Opini: Hemat Energi Butuh Mindset, Bukan Hanya Peraturan

Di sini, saya ingin menambahkan perspektif personal. Kebijakan hemat energi sering kali terjebak dalam logika teknis dan administratif. Kita lupa bahwa yang paling penting adalah membangun mindset atau pola pikir hemat energi di semua level. Sebuah studi dari International Energy Agency (IEA) pada 2025 menunjukkan bahwa program perubahan perilaku (behavioral change) di tempat kerja bisa mengurangi konsumsi energi hingga 15-20% tanpa investasi teknologi besar.

Artinya, selain kebijakan struktural seperti yang disebutkan Ratna, kita perlu kampanye masif yang mengajak setiap individu—baik ASN, karyawan swasta, maupun masyarakat umum—untuk lebih sadar energi. Mematikan perangkat yang tidak digunakan, memanfaatkan pencahayaan alami, atau sekadar menaikkan suhu AC 1-2 derajat bisa menjadi kebiasaan kolektif yang berdampak besar jika dilakukan secara konsisten.

Data Unik: Pelajaran dari Negara Lain

Mari kita lihat sekilas perbandingan. Jepang, pasca gempa 2011, meluncurkan kampanye 'Setsuden' (hemat listrik) yang tidak hanya mengandalkan WFH, tetapi kombinasi dari: (1) standar efisiensi ketat untuk peralatan elektronik, (2) insentif untuk perusahaan yang mengurangi konsumsi puncak, dan (3) partisipasi aktif masyarakat. Hasilnya, dalam 3 tahun, mereka berhasil mengurangi konsumsi listrik nasional sebesar 10% tanpa mengorbankan produktivitas ekonomi.

Contoh lain adalah Denmark, yang berhasil menurunkan intensitas energi (energy intensity) per unit PDB-nya hingga hampir 40% dalam dua dekade melalui investasi besar-besaran pada energi terbarukan dan sistem distrik pemanas yang efisien. Mereka tidak mengandalkan perubahan pola kerja semata, tetapi transformasi sistem energi secara fundamental.

Konsekuensi Sosial-Ekonomi yang Sering Terlupakan

Ratna juga mengingatkan tentang konsekuensi sosial-ekonomi dari kebijakan WFH yang terlalu dipaksakan. Bagi banyak keluarga, bekerja dari rumah berarti menanggung tambahan biaya listrik yang bisa membebani keuangan rumah tangga, terutama bagi mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah. Di sisi lain, sektor usaha yang bergantung pada mobilitas pekerja—seperti warung makan sekitar kantor, transportasi umum, hingga penyedia jasa kebersihan—bisa terdampak negatif.

Belum lagi soal produktivitas dan kualitas layanan publik. Tidak semua jenis pekerjaan bisa dilakukan optimal dari rumah. Layanan yang membutuhkan interaksi langsung atau akses ke dokumen fisik mungkin akan terganggu. Oleh karena itu, kebijakan hemat energi harus adil dan mempertimbangkan seluruh mata rantai yang terdampak.

Menuju Transformasi, Bukan Sekedar Penghematan

Poin terpenting dari peringatan Ratna adalah bahwa hemat energi harus menjadi bagian dari transformasi energi nasional yang berkelanjutan. Ini bukan program musiman atau reaksi instan terhadap fluktuasi pasokan. Transformasi berarti membangun sistem energi yang resilient, efisien, dan berbasis sumber daya terbarukan dalam jangka panjang.

Beberapa langkah konkret yang bisa diambil antara lain: mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan angin, membangun smart grid yang bisa mengoptimalkan distribusi listrik, serta menciptakan regulasi yang mendukung investasi hijau. Dengan demikian, penghematan energi bukan lagi beban, tetapi investasi untuk kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: Apakah kita ingin dikenal sebagai generasi yang hanya pandai menggeser masalah, atau sebagai generasi yang berani membangun sistem energi yang lebih baik untuk anak cucu? Kebijakan WFH mungkin bisa memberikan sedikit ruang napas, tetapi tanpa strategi komprehensif yang menyentuh sektor industri, transportasi, dan perilaku masyarakat, kita hanya akan berputar-putar di tempat.

Pesan Ratna Juwita mengingatkan kita bahwa solusi sederhana untuk masalah kompleks sering kali adalah ilusi. Mari dorong pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk berpikir lebih besar, lebih sistematis, dan lebih berani dalam merancang masa depan energi Indonesia. Karena pada akhirnya, hemat energi yang sesungguhnya adalah ketika kita tidak perlu lagi khawatir tentang kelangkaan, karena sistem yang kita bangun sudah cerdas, efisien, dan berkelanjutan dari akarnya.

Terkait

Artikel Terkait

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
GOV

Dewan Pers Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jakarta: Dewan Pers.

https://dewanpers.or.id/pedoman/ko_de_etik
2
STAT

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Laporan Statistik dan Indikator Pembangunan Sosial Indonesia. Jakarta: BPS RI.

https://www.bps.go.id
3
REPORT

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Standardisasi Verifikasi Data & Literasi Media Siber Nasional. Jakarta: Komdigi.

https://www.komdigi.go.id
4
JOURNAL

Pusat Dokumen & Informasi Ilmiah LIPI/BRIN. (2023). Pedoman Sitasi dan Akurasi Data Berita Publikasi Media Digital. Riset Jurnalistik Indonesia, 12(2), 45-58.

https://lipi.go.id

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Jabodetabek Terkini.

JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

LTLensaJabodetabek

LensaJabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Berita dan liputan mendalam dengan sudut pandang berbeda dan akurat.

Kunjungi Situs
KJKabarJabodetabek

KabarJabodetabek

SUMBER BERITA TERPERCAYA

Sumber berita terpercaya dengan informasi aktual dan kredibel.

Kunjungi Situs
KBKabarify

Kabarify

KABAR NASIONAL

Kabar nasional dan peristiwa terkini secara ringkas.

Kunjungi Situs
JHJakartaHarian

JakartaHarian

PORTAL BERITA HARIAN

Portal berita harian dengan informasi terkini seputar Jakarta dan sekitarnya.

Kunjungi Situs
KKenalJakarta

KenalJakarta

MENGENAL JAKARTA

Mengenal Jakarta lebih dekat melalui sejarah, budaya, dan perkembangan kota.

Kunjungi Situs
Mengapa WFH Hanya Seperti Tempelan? Analisis Mendalam Soal Kebijakan Hemat Energi yang Berkelanjutan | Jabodetabek Terkini